Rabu, 10 Oktober 2012

Saat Kau Bersamanya, Tak Sedikit Kah Kau Mengingat Aku?

Kau terlalu angkuh karena merasa dicintai aku setengah mati. Jika cakapku tak lagi ingin kau dengar, biar diam dan sepiku yang akan menghukummu di suatu hari yang kita sebut kelak. Kita adalah cerita yang belum usai, aku masih tertinggal dalam lipatan masa lalumu, sedang kamu berdiam di masa lalu sebelum aku. Biarlah dia yang memiliki ragamu tapi tidak dengan pikiran dan hatimu.

Jumat, 05 Oktober 2012

Anggap Saja Aku Masih Mencintaimu, Walau Semua Ku Lakukan Dalam Diam

Jika masih ada cinta di hatimu, rindu akanku di benakmu, sapalah aku, bahuku masih teramat lebar untuk menopang segala kegelisahanmu. Aku tak peduli akan segala hal, akupun tak mudah memaafkan, tapi kamu adalah pengecualian. Kau sudah masuk pekaranganku, kau memutar bahu untuk berlalu, tak sadarkah kamu, aku adalah rumah yang selalu ingin kau tuju. Waktu dan kesan pertama memang tidak bisa diulang, setidaknya bertemulah sayang untuk memperbaiki keadaan. Maka, ku biarkan kau kembali lalu pergi lagi ke tempat yang seharusnya dia huni, dengan keikhlasan hati yang sangat ku paksakan.

Pertengkaran Semalam

Tiga Oktober dua ribu dua belas kemarin seharusnya menjadi hari bahagia untuk salah satu sahabatku tercinta, bertambahnya usia dan dilamar kekasihnya merupakan kado terindah dari Tuhan untuknya. Seperti biasa kami berkumpul dalam canda tawa dalam senda gurau, mungkin malam itu kondisi fisik dan hati dari seorang sahabat lainnya sedang tidak enak ditambah mungkin ada omonganku yang sedikit menyinggung perasaannya, seketika malam itu pun berubah. 
Bagaimana bisa dipikirannya saya mencampuri urusan yang bukan urusan saya padahal semua tahu termasuk kamu dari mereka semua, saya yang paling cenderung cuek, apa adanya, paling tidak suka gosip, tidak suka ngomongin orang dan tidak kenal banyak orang di lingkungan rumah. Mana mungkin saya mencampuri urusanmu sedang urusanku masih banyak, mencampuri kehidupanmu padahal kehidupanku jauh lebih menyenangkan dan menarik untuk saya pribadi. Ku pikir ini hanya amarahmu sesaat maka kubiarkan.
Saya sudah pernah

Selasa, 02 Oktober 2012

Sendu

Kutuliskan namamu di setiap lembar puisi senja kala itu, ternyata aku dirasuki rindu akanmu. Aku merindukan mata sendumu bak senja teduh di cakrawala langitku, yang menjadi asal muasal segala duka untuk anak-anak sajak sepiku. Kutapaki lekuk tubuhmu, dalam raut sendu mengandung candu. Ingin rasanya mencumbuimu seperti malam-malam syahdu terdahulu. Walau kini kita tidak lagi bertemu, izinkan aku mengenangmu di setiap sujudku. Di setiap doa-doa sendu dalam jeda tasbihku. Aku tanpamu sunyi, sendiri, meratapi hari-hari yang tidak jingga lagi. Hatiku riuh, menderu meneriaki kau kembali di sisi.