Kamis, 14 November 2013

Apapun Profesinya Kembali ke Pribadinya

Ini ruang publik dan tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan opini pribadi, silahkan yang tidak suka menjadi hak pembaca.

Ketika kita benci dan traumatik pada satu profesi tapi kawan-kawan terdekat kita ada yang berprofesi demikian menjadi perang batin tersendiri untuk kita. Sales Promotion Girls contohnya atau biasa yang disebut SPG. Jujur saya benci SPG dari dulu, kupikir menang fisik doank bekerja tanpa menggunakan otak tapi berpenghasilan melimpah, tapi SPG yang bagaimana dulu yang saya tidak suka, saya benci dengan SPG yang selain menawarkan barang dagangannya, menawarkan dirinya pula, apalagi biasanya yang levelannya under dan usianya masih belasan lebih sedikit, yang masih jaga di agen, counter / toko, yang tidak berseragam atau yang berseragam tapi tak bagus, yang fee hariannya masih kecil, yang biasanya tengil, banyak tingkah, yang laguannya pengen banget kita bayarin, yang cabe-cabeanlah yah kalau orang-orang zaman sekarang bilang (pocket/ketket). Karena SPG yang pada tahap pemain atau levelannya sudah di atas (Event, MC, Reguler Berkelas) terkadang lebih bermoral dan main bersih daripada SPG yang under ini.

Jumat, 01 November 2013

Perkara Gantungan Kunci

"Tengahnya air apa?" seorang bocah keturunan Tionghoa sekitar umur enam tahun menanyakan perihal itu kepada kami, kami itu aku dan In. In menjawab laut, salah katanya, lalu dijawab lagi perahu, nelayan, becek atau apalah disebutnya dan jawabannya pun masih salah. Lalu aku menawab 'i' tengahnya air itu i, huruf i, "ya benar, benar Kak Nad" teriaknya kegirangan. "Wah jawabanku benar" gumanku, walau tebak-tebakkan ini belum pernah kudengar sebelumnya.

Jumat, 25 Oktober 2013

Tolong... Tolong

Aku ingat betul pelajaran agama yang kudapat ketika Sekolah Dasar dulu. Pelajaran agama menjadi salah satu pelajaran yang aku minati, karena apa? karena pengajar yang masih muda, pintar, energik dan yang terpenting adalah anak muridnya diajarkan dengan cara tidak menggurui. Beliau banyak menceritakan kisah-kisah ringan yang membuat murid berpikir dan mengambil pelajaran dari ceritanya tersebut. Lebih tepatnya pelajaran moral.

Kamis, 24 Oktober 2013

Selingkuh Jangan Dijadikan Watak

Sesungguhnya aku tak kenal betul dengannya, yang kutahu laki-laki itu adalah teman kerja kekasihku. Buat orang sepertiku, kenal dengan seseorang seperti pisau bermata dua, kau akrab di lampau bisa berjarak dan asing di kelak, oleh sebab itu aku tak pernah mau akrab dengan siapapun. Watakku yang keras dan omonganku yang pahit pedas serta kalau tak suka dengan seseorang terang-terangan, menjadi point yang memperkuat bahwa sebaiknya aku tak terlalu dekat dengan banyak orang. 

Kembali ke laki-laki itu. Laki-laki yang berparas menawan, bergurat wajah seperti aku keCina-Cinaan, berkulit putih susu dan bermata sendu, perawakannya pun tinggi besar tapi karena akhir-akhir ini dia sering mengkonsumsi alkohol perutnyapun membuncit. Laki-laki yang mempunyai kepribadian yang sangat tertutup terutama masalah cinta. Lahir dari keluarga berada, dengan kedua orang tua yang telah berpisah. Ayahnya penulis skenario dan asisten sutradara pada masanya,

Jumat, 23 Agustus 2013

Apa yang Lebih Kacau dari Meletusnya Balon Hijau? ; Perasaan-Perasaan Tak Diinginkan

Aku menunggumu tidak lebih lama dari kereta sore itu. Aku mengenalmu cukup lama tapi hatiku tetap tak benar-benar mengenalimu. Kukira kau sosok pendiam yang tertutup, tapi sepertinya di dekatku kau bicara lebih banyak dari kemauanmu. Katamu aku ini orang yang angin-anginan, menit ini mau di detik berikutnya bisa berubah, aku memang peragu oleh itu butuh seseorang paling tidak yang sepemikiran denganku untuk sekadar meyakiniku.