Selasa, 20 November 2012

Dengan Menciummu Sedikit Saja Aku Langsung Banyak Tahu Bagaimana Aroma Luka

Senja itu aku tertidur di ruang tamu, menyandarkan kepala di bahu teman kampusku yang gagah, jangan bilang teman yang lain bungkamku dengan sebuah kecupan di bibirnya. Aku mengingat banyak wajah di sela cumbu hari baru atau malah mungkin hari akhirku dengannya. Sekilas dalam bola matamu, ku lihat apa itu surga, hingga kau sekat dan memilih memejam untuk sekadar mengelabuhi pandanganku. Setelah berpeluh denganku, malamnya ia dibawa ke psikater lagi, dia memang sedang sakit, ku rasakan kulitnya hangat yang menghangatkan, maaf kataku, besok tapi lagi ya ujarku dalam hati.
Waktu berselang pecutan kata keluar dari bibirmu yang serentak membuyarkan sukmaku, tiba-tiba kau marah. Salahku apa?.

Sabtu, 10 November 2012

Pejam Mata pada Bolanya yang Kuyup

Lagi-lagi kita temui percabangan hati; antara mempertahankan yang sudah lama namun tak pasti, seseorang yang sudah pergi dan takkan kembali atau keragu-raguan yang baru ingin dimulai.
Ada seseorang dengan bangganya berbicara bahwa yang mencintainya bukan hanya satu orang wanita saja, padahal bisa saja beberapa detik dari dia berbicara mungkin ia akan kehilangan satu diantaranya. 
Kau tersakiti oleh yang lain, kau datang padaku untuk menutupi sedikit rasa sakitnya. 
Kau berusaha melupakan orang yang kau cinta karena tidak dicinta dengan cara mencintai orang yang mencintaimu.
Malam kemarin kau ada di pelukku, entah esok kau berada di dekap siapa. 
Aku berada

Kamis, 01 November 2012

Kecewa, Dendam dan Sakit Hati


Mengapa Seseorang Susah MoveOn?

Sekelilingku berkata aku bisa mendapatkan yang lebih baik, namun hati bersekeras tidak ingin yang lebih baik, aku hanya ingin dia. Terdengar egois memang kalimat tersebut seolah tidak ingin mendengarkan apa kata orang, bukan pula tidak bisa berpisah karena cinta mati melainkan bagaimana susahnya memulai semuanya dengan orang baru dari nol. Beda individu beda karakter, beda otak beda isi. Bukan tidak mau usaha untuk mencoba, namun terasa raga sudah lelah.

Kamis, 25 Oktober 2012

Dengan Terus Bertindak Bodoh Aku Semakin Yakin Telah Melepas Orang yang Benar

Aku berjumpa dengan mantan kekasihku. Dia sedang membuang sesuatu. 'Masih hangat dan berdebar kencang', kataku sambil memungut hatinya yang tertinggal. Malam kemarin dengkurannya terdengar jelas, mata sayunya tertutup sendu. Ia tertidur pulas satu jengkal di samping aku. Kau lebih banyak diam dan lebih memilih berspekulasi yang bukan-bukan tanpa pernah aku di beri penjelasan dan menjelaskan apapun. Telan segala asumsimu sendiri, aku hanya bisa tersenyum atas pradugamu yang ternyata salah. Harusnya dulu kamu senang diperhatiin orang secuek aku. Karena perhatian aku takkan pernah datang dua kali. Ada waktu di mana kau merasa jumawa karena dirindukan aku dan ada masa di mana mengingat namamu saja mungkin aku sudah lupa. Antara salah benar serta khilaf dan sadar, menjatuhkan hati padamu di luar kendaliku dan membuat kita berpisah sungguh bukan inginku. Pada malam kita sama-sama melenyapkan perasaan, padahal kita sama-sama tahu bahwa hati kita yang saling mencintai tidak pernah tertidur. Aku adalah keteraturan yang berantakan, ruang hampa berpartikel kecil dengan harapan mendapat senyawa terbaiknya dan mungkin bukan kamu orangnya. Datang, temui, peluk dan cium aku sekali lagi. Agar aku tahu kan membiarkanmu pergi sebagai apa.