Selasa, 05 Juni 2012

Ya

Kadang aku menjumpai orang yg salah, kadang orang salah jika menjumpaiku. Demi dunia aku banyak menyakitinya tak kusadari duniaku adalah dia. -- Zarry Hendrik

Dulu Aksara yang Kutulis Selalu Tentang Luka Sekarang Pun Sama

Setelah mengenalmu menulis puisi untukmu itu bagianku. Bagianmu menulis puisi untuk yang lain saja.
Tak peduli siapa yang menjadi inspirasi-inspirasi disetiap tulisanmu, yang penting aku tulus mencintaimu sebelum maupun sesudah bertemu.
Mengenal dan bertemu mu mengubah riang tawa menjadi lebih dari sekedar topeng belaka.
Mengubah aksara yang kutulis tentang luka menjadi air mata bahagia.
Aku memang tidak sempurna, Tuhan pun tahu. Aku tak mengeluh, aku bersyukur sekalipun lahir hanya sebagai butiran debu.
Atau hanya sebagai tinta yang ditulis dikertas putih lantas usang karena waktu.
Seharusnya kau tak perlu ganja, kan sudah ada aku. Cintamu serupa candu yang lebih memabukkan dari sekedar asap yang kau hirup lalu kau buang.
Setelah beberapa hari berlalu,  aku meragukan keyakinanmu dan memilih meyakini keraguan diri ku sendiri.
Entahlah apa yang kau rasa, cinta yang diselimuti dengan dusta atau kebahagiaan yang dikafani dengan kepura-puraan saja.
Atau lebih delusional daripada itu karena mungkin hanya sekedar hasrat dan syahwat yang hanya numpang lewat.

Jumat, 01 Juni 2012

Tetap

Tetap sabar sayang saat kau mulai geram.
Tetaplah ramah saat aku mulai berulah.
Tetap tersenyum saat kau mulai marah.
dan Tetaplah memeluk saat aku mulai tak terkendali.

Namun saat hujan kini bukan lenganku lagi yang akan memeluk bekumu. 
Karena aku sudah kau penjara dalam masamu yang kau sebut lampau.

Singgah

Kudengar Gabriel menyebutkan satu nama, yaitu namamu.
Walaupun samar tapi tetap bisa kudengar.
Lalu munculah sesosok yang dibisikan-nya kala itu didepanku.
Kulihat dalam-dalam wajah sayu, lebih dalam lagi aku masuk ke rongga matamu.
Lalu aku berfikir mungkin Tuhan menciptakan sepasang matamu agar ada sesuatu yang bisa aku gila-gilai seperti ini.
Debar jantung memicu, di dekatmu nafasku berfluktuasi, aku menjatuhkan kepala di dada bidangmu sambil berkata;

Jumat, 11 Mei 2012

Aku Selalu Bersyukur Dalam Segala Hal, Namun Tuhan Luput Menyempurnakannya Dengan Keberuntunganku Dalam Cinta

Tuhan, jangan sampai karena terlalu banyak kecewa akan cinta, hidup sudah kehilangan gairah, tak ada lagi yang ingin kupinta, hati terasa mati rasa, aku jadi lupa caranya berdoa.
Memang ada benarnya ketika membicarakan cinta, harusnya sama. Sama rasa, sama agama, sama struktur wajah, sama kasta dan sama latar belakang keluarga.
Ketika jodoh sudah dikotak-kotakan Tuhan sedemikian rupa, sesungguhnya anak Putra Mahkota yang jatuh cinta dengan Dayang Istana hanya ada dicerita drama.
Ketika harap dan mimpi akan cinta berbanding terbalik dengan realita, seakan derita lebih baik ditelan mentah-mentah dan mengikhlaskan segala.
Biar takdir cinta menemui jalannya sendiri. Walau berbatu, buntu, berliku dan terasa nyeri. 
Harus berapa lama lagi cinta yang ku cintai dan mencintai akan datang padaku?.
Sepanjang usia, hati ini merasa tidak ada yang mencintai dan raga ini tidak ada yang ingin memiliki.
Sampai di jeda cerita bertemu dengan beberapa cinta, itu pun cinta yang salah, semua terasa sia-sia saat airmata tak dapat lagi berbicara tentang luka.
Spekulasi muncul di dada, paradigma berlomba di kepala, harusnya ku dapat mencerna, segala sesuatu yang kupinta, namun Tuhan berkehendak beda.
Aku selalu bersyukur dalam segala hal, namun Tuhan luput menyempurnakannya dengan keberuntunganku dalam cinta. Seperti cinta Adam kepada Hawa atau cinta Kawula terhadap Semestanya.