Jumat, 14 Maret 2014

Dalam Perjalanan Hendak Pulang



Hujan hari ini Luh, hujan yang sama pernah terjatuh ketika kita hendak memutuskan bertemu pertama kali di suatu trotoar yang cemas. Hujan deras sepanjang hari, tapi kali ini berbeda, hujan kali ini deras tapi hanya sebentar mungkin seperti perasaanmu yang dulu pernah kau jatuhkan padaku. Kini, aku hendak pulang ke rumah tidak menemuimu karena kau yang sudah engan bertemu denganku sepertinya. Aku sedang menakar apalagi sebenarnya, dari perasan-perasaan kita yang terlanjur jauh, saat ingatan-ingatan dibangkitkan, dada ini masih saja menyimpan lebam.

Sebelum bersamamu kemarin, dulu aku pernah dekat dengan seorang dari luar kota, dia datang ke kotaku dan memilih menetap karena telah memilihku kala itu. Tak lama hubunganku dengannya pun berakhir, dia masih mencintai mantan kekasihnya, jadi kubiarkan dia pergi, kau sadar bukan, hati tak seharusnya dihuni dua nama sekaligus apalagi lebih. Selang beberapa minggu mungkin dia sadar keputusannya salah, dia berusaha mendekatiku lagi dengan berbagai cara. Tahun lalu tepatnya, ketika ulangtahunku di usia yang tak muda lagi, dia membawakan banyak hadiah dan kejutan indah, tapi itu tak cukup membuka hatiku untuk kedua kalinya. Diapun beberapa kali mencoba ke tempat tinggal dan tempat kerjaku sekadar berjumpa, tapi selalu ku tolak dengan nada yang kasar. Akhirnya diapun menyerah, kudengar kabar dia lebih memilih kembali ke kota asalnya, ke rumah dan keluarganya di kaki Gunung Bromo dan perasaanku biasa saja. Oiya dia juga menjanjikan perjalanan ke Bromo, sama sepertimu, Luh.

Luh, sebenarnya aku tak pernah ingin mengakhiri hubungan denganmu seperti ini, bagaimana bisa aku membencimu minimal lupa untuk kau yang pernah menyakitiku saja tidak. Terkadang aku rindu leluconmu yang sama sekali tidak lucu itu. Mungkin mantan-mantanku tak sebanyak mantanmu, tapi mantan-mantanku lainnya berwatak serius sepertiku, sedang kau pengecualian. Jadi seharusnya kau sadar tulisan ini untukmu. Satu hal akupun tak pernah peduli apa kata orang, tak kecuali seorang perempuan yang mengaku mantan kekasihmu juga yang tak sengaja kuketahui dan kutemui beberapa malam yang lalu beserta kawan-kawannya yang dengan nada sumbang pernah membicarakan kita.

Luh, seperti yang pernah kau bilang padaku ketika kita masih bersama dulu, beberapa bulan dari sekarang kau pun akan bergegas pergi dari kota tempat lahirku yang tak pernah lengang ini, mungkin karena kontrak kerjamu di sini sudah selesai, atau ada keperluan lain, atau yang sudah pasti kau rindu rumah, adik dan nenekmu, atau malah kau ingin kembali ke cinta sebenar-benarnya cintamu di sana, cinta terdahulumu, cinta sebelum kau mencintai aku. Wah, mantan kekasihmu banyak sekali ya Luh, belum lagi mantan yang hampir jadi kekasih, lampau ataupun yang sedang berlangsung, sudah kuduga dari pertama kau memang pria yang hatinya cepat sekali terjatuh, tapi sudahlah aku tak peduli, karena di tulisan ini yang kupedulikan hanya kamu bukan perempuan-perempuan yang ada di keliling hatimu.

Luh, takkah kau tahu hidup cuma sebatas pengulangan-pengulangan momentum, mungkin dengan subjek yang berbeda; pertemuan demi pertemuan, tatapan demi tatapan, kepergian demi kepergian lantas hilang. Sebenarnya aku ada permintaan untukmu yang mungkin takkan pernah kau, Tuhan bahkan semesta kabulkan, itulah aku Luh, yang kau tahu aku terlalu pesimis dan negatif dalam menghadapi hidup, tapi aku memang selalu kalah dalam permainan melawan ketidakmungkinan. Kau tahu aku perempuan tak berhasrat banyak, tak banyak inginku, temui aku sekali lagi sebelum kepulanganmu, agar aku tahu harus melepasmu sebagai apa.

Kepergian yang dibarengi ketidaktahuan dan ketidakpastian akan pulang selalu saja berhasil membuat dadaku terasa nyeri dan terkadang aku suka lupa mungkin pulangmu bukan ke aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar